Minggu, 01 Juni 2008

Kubur Syech Maulana Umar Mas'ud

Tokoh Umar Mas’ud yang dalam tradisi lisan dan tulis masyarakat Bawean dikenal sebagai penyebar Agama Islam di Bawean, terletak di dalam kompleks Masjid Jamik Sangkapura yang konon masjid tersebut didirikan oleh Umar Mas’ud. Secara administratif kubur ini termasuk kedalam wilayah Desa Kotakusuma Kecamatan Sangkapura yang menempati lokasi di sisi Barat Alon-alon kota Kecamatan Sangkapura.
Kubur Umar Mas’ud berada di sisi belakang kompleks Masjid Jamik dengan pagar pembatas yang menyatu dengan pagar masjid. Sebuah cungkup yang telah direnovasi dan kini cungkup tersebut berdinding tembok semen baru menaungi dua buah kubur, yakni kubur Umar Mas’ud beserta istrinya. Cungkup kubur ini memiliki ukuran panjang 6 M, lebar 5 M dengan tinggi dinding bangunan 2 M. Sedangkan jirat kuburnya telah pula di renovasi oleh pengurus masjid yang menggantinya dengan jirat semen berukuran panjang 245 cm, lebar 80 cm dengan tinggi 19 cm.
Nisan kubur yang kini terpasang di atas jirat merupakan nisan baru yang menggunakan bahan kayu jati. Sedangkan dua pasang nisan asli dari dua buah kubur tokoh ini masih tersimpan di dalam bangunan cungkup dalam kondisi utuh dan baik. Nisan asli dari tokoh Umar Mas’ud menggunakan bahan batu granit berbentuk pipih dengan hiasan berbentuk 3 buah lekukan yang semakin mengecil dan menyudut pada bagian kepala nisan. Pada bagian kedua pundak nisan terdapat lekukan yang menyerupai tonjolan sebagai hiasan tambahan. Nisan ini memiliki ukuran lebar 20 cm, tebal 9 cm dengan tinggi 80 cm beserta kaki nisan yang merupakan bidang tanam dalam posisi berdiri dari nisan tersebut. Sedangkan sepasang nisan dari istri Umar Mas’ud menggunakan bahan batu andesit yang secara umum memeiliki bentuk persegi empat panjang. Antara bidang kaki dan badan nisan di batasi dengan hiasan dua pelipit. Di bagian tengah sisi badan terdapat hiasan geometris berbentuk segi tiga dengan hiasan telinga di kedua sisi sisi badannya. Sedangkan bagian atas bidang nisan berbentuk rata. Nisan kedua ini memeiliki ukuran lebar 18 cm, tebal 7,5 cm, dengan tinggi 53 cm dengan bidang kaki atau tanam nisan.
Tokoh Umar Mas’ud dalam sejarah Paulau Bawean dikenal sebagai tokoh penyiar Agama Islam yang datang ke Bawean dan mengalahkan penguasa Bawean dikala itu yang bergelar Raja Babi sebagai raja Kerajaan Lubek dalam sebuah perang tanding. Setelah berhasil mengalahkan Raja Babi yang seketika itu meninggal dunia, Umar Mas’ud mengangkat dirinya sebagai penguasa Pulau Bawean dan memindahkan pusat kekuasaan dan pemerintahannya dari Panagih di Desa Lebak ke Bengko Dhelem yang kini berada di Dusun Dejebheta Desa Sawahmulya. Dimasa pemerintahannya ini Umar Mas’ud mendirikan Kota Sangkapura dengan konsepsi kota Islam Jawa yang diadaptasi dengan kondisi geografis setempat. Bentuk adaptasi konsepsi tata kota Islam Jawa tersebut nampak dari penempatan keraton pusat pemerintahan yang di Bawean dikenal dengan Bengko Dhelem di sisi Utara Alon-alon dan pasar di sisi Selatan Alon-alon. Sedangkan masjid jamik tetap terletak di sisi Barat dari Alon-alon. Adaptasi tersebut nampaknya dilakukan dengan pertimbangan keberadaan letak pelabuhan yang berada di sisi Selatan dengan jarak kurang lebih 800 M.
Pemerintahan Umar Mas’ud di gantikan oleh anak keturunannya pada saat beliau wafat pada tahun 1630M yang kehilangan kedaulatannya sehubungan dengan naiknya kembali kekuatan kerajaan-kerajaan di tanah Jawa pasca Majapahit.

Kubur Cokrokusumo

Kubur Cokrokusumo secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Sungaiteluk Kecamatan Sangkapura Pulau Bawean. Lokasi kuburnya berada ditepi persimpangan jalan kecamatan yang telah beraspal, sehingga kubur ini cukup mudah untuk di kunjungi. Kubur Cokrokusumo yang bagi masyarakat Sangkapura juga dikenal dengan nama Congkop Naghesare, dikelilingi oleh kompleks pekuburan sangat besar yang terpisahkan oleh jalan kecamatan yang melintas ditengahnya.
Sebagai pembatas antara jalan kecamatan dengan lokasi kubur
Cokrokusumo terdapat pagar tembok tua yang kini pada banyak bagiannya telah runtuh. Pada sisi dalam pagar tembok ini terdapat bangunan cungkup yang menggunakan kontruksi tiang kayu. Dinding bangunan cungkupnya separo bagian menggunakan bahan kayu (papan) dan sebagian atasnya berupa kawat ram baru. Atap bangunan ini menggunakan bahan genteng dengan lantai berupa tanah. Kondisi bangunan cungkup kubur Cokrokusumo saat ini dalam keadaan rusak berat. Di dalam bangunan cungkup kubur ini terdapat beberapa kubur tua. Tiga buah kubur dari tokoh utama yang ada di dalam cungkup kubur ini diberi bangunan cungkup kedua. Cungkup kubur Cokrokusumo berada di bagian tengah yang diapit oleh dua cungkup lainnya.
Jirat kubur Cokrokusumo menggunakan kontruksi tembok berlepa tua yang ciri fisiknya sama dengan yang dipergunakan pada bangunan kolonial. Jirat kubur ini memiliki gaya bentuk badan candi yang mana bidang kakinya di beri hiasan undakan pelipit yang semakin mengecil pada bagian atas. Badan jirat di biarkan polos tanpa hiasan. Sedangkan bagian kepala jirat menjorok keluar dari badan jirat dengan
hiasan undakan pelipit yang membentuk bidang semakin mengecil di bagian atasnya. Jirat kubur Cokrokusumo ini memiliki ukuran panjang 234 cm, lebar 108 cm dengan tinggi 43 cm.
Nisan kuburnya menggunakan bahan kayu dengan pola hias yang kompleks. Sebagai pembatas antara bidang kaki dan badan nisan di beri hiasan undakan pelipit yang mengecil. Keempat sudut bawah badan nisan diberi hiasan antefik. Bagian tengah badan nisan terdapat bingkai segi lima yang di sekelilingnya di beri hiasan floral yang berbentuk suluran maupun kembang ceplok. Pada bagain tengah bingkai segi lima di beri hiasan kaligrafi pada sisi dalam nisan dan suluran flora dengan kembang ceplok yang tumbuh dari vas pada bagian sisi luar nisan.
Kaligrafi yang tertulis pada bagian sisi dalam nisan, memiliki isi yang berbeda antara nisan kepala dan
nisan kaki. Kaligrafi pada nisan kepala berisi wafatnya Kanjeng Rahadian Tumenggung Purba Negara pada tanggal 29 Ramadhan 1235. Sedangkan pada nisan kaki menyebutkan wafatnya Kanjeng Rahadian Tumenggung Panji Cokrokusumo pada tanggal 29 Ramadhan 1285 Hijriyah.
Berdasarkan data sejarah yang ada di Pulau Bawean, tokoh Cokrokusumo merupakan keturunan Umar Mas’ud yang kemudian bertahta atas Bawean pada Tahun 1747 hingga 1789 M sebagai penguasa ke lima sejak Pulau Bawean direbut oleh Umar Mas’ud yang sekaligus menjadi penyiar Agama Islam di Bawean setelah mengambil alih kekuasaan dari raja yang beragama kafir.

Kamis, 22 Mei 2008

Kercengan Tradisional




KERCENGAN TRADISIONAL
Kercengan merupakan hadrah dalam bentuk tradisional Bawean. Alat musik yang dipergunakan terdiri dari sejumlah rebana/terbang khusus yang memiliki bidang badan yang lebar terbuat dari kayu. Membran sebagai penghasil suara memiliki ukuran kekencangan yang berbeda dengan terbang yang dipergunakan hadrah ISHARI.
Lagu-lagu yang dipergunakan pada awalnya diambil dari Kitab Barzanji. Namun pada perkembangan selanjutnya juga ditemukan syair-syair berbahasa Bawean maupun Indonesia yang temanya masih tetap seputar pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad serta ajaran syariat Agama Islam.
Kercengan Bawean juga dilengkapi dengan sejumlah 15 – 30 penari yang disebut dengan ruddet. Para penari ini duduk bersaf dalam 1, 2 atau 3 baris syaf. Gerakan-gerakannya banyak diinspirasi dari gerakan sholat dan huruf hijaiyah lafat-lafat suci Agama Islam.
Konon Kercengan baik yang menabuh maupun yang menari hanya dilakukan oleh pria saja. Namun saat ini banyak ditemui wanita sebagai vokalis dan pe-ruddet kercengan. Bahkan telah ada group kercengan yang keseluruhan personilnya adalah wanita (penabuh, vokal, dan ruddet).

Tari Kercengan Garapan




TARI KERCENGAN GARAPAN

Tari ini mendasarkan ide garapnya pada Kercengan tradisional Bawean pada musik dan gerakannya. Musik dan geraknya merupakan bentuk pamadatan dari berbagai irama kercengan. Perbedaan mendasar dari Kercengan tradisional Bawean adalah para penarinya yang melakukan gerakannya dengan berdiri dan membentuk beragam pola lantai.
Sebagai tari yang mengambil sumber gerak dari seni tradisi kercengan, karakter tari rancak tetap dipertahankan.
Tari ini menggambarkan keteguhan hati masyarakat Bawean dalam iman Agama Islam yang merupakan agama anutan masyarakat seluruh Bawean. Syair dan geraknya menggambar kecintaan pada Sang Khaliq Allah SWT dan kekasih hati utama Rasul Nabi Akhiruzzaman Muhammad SAW sang
pembawa kebenaran.

Pencak Panganten Tradisional

Bawean walaupun luas pulaunya hanya terdiri dari dua kecamatan, dikenal memiliki beragam bela diri tradisional. Diantara beragam jenis bela diri tradisional yang ada, hingga kini masih menggunakan pola latihan yang tradisional dan belum masuk kedalam organisasi Ikatan Pencak Silat Indonesia. Dari beragam pencak silat yang ada di Bawean, Pencak Panganten merupakan aliran yang paling menonjolkan keindahan gerak tanpa mengurangi teknik bela diri.
Pencak Panganten dimainkan oleh dua orang pendekar yang berlawanan dengan bersenjatakan sebilah pedang. Sebagai musik pengiring dipergunakan dua buah kendang yang dimainkan oleh dua orang dan sebuah gong sebagai element dasar. Sebagai pemanis digunakan kenong. Menurut para pendekar dan tetua Bawean, Pencak Panganten berasal dari Timur Tengah yang diciptakan olah Ali Bin Abutalib dengan ciri pembuka geraknya yang menuliskan lafat Allah dengan ujung pedangnya.