Tampilkan postingan dengan label Kesenian Bawean. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesenian Bawean. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Juni 2008

Korcak

Seni tradisi Bawean yang kini kondisinya juga berada diambang kepunahan salah satunya adalah Korcak. Saat ini di Kecamatan Sangkapura Pulau Bawean, group atau perkumpulan korcak hanya tinggal 2. Yakni group yang ada di Dusun Koddhuk-Koddhuk dan Sokela Desa Patar Selamat yang menghimpun diri dalam satu group, dan group lainnya berada di Dusun Menara Desa Gunungteguh. Walaupun jumlah group perkumpulan Korcak tinggal 2, intensitas penampilan kesenian ini masih cukup tinggi. Biasanya mereka banyak mendapat undangan tampil dalam hajatan pernikahan atau sunatan.
Dalam penampilannya Korcak dapat di bedakan kedalam dua bentuk pertunjukan. Bentuk pertama korcak dimainkan sebagai musik arak-arakan yang di Bawean umumnya dalam arak-arakan penganten Bawean. Dalam format bentuk ini para penabuh kendang dan peruddat dengan rebananya dimainkan dalam formasi barisan arak-arakan yang memainkan musik korcak sambil berjalan. Bentuk format kedua, Korcak dimainkan diatas sebuah pentas atau pasamoan. Dalam format bentuk ini pemain
kendang duduk berhadapan. Sedangkan para peruddat mengawali permainan geraknya dengan duduk bersyaf dalam 2, 3, atau 4 syaf barisan tergantung pada jumlah peruddatnya. Dalam Format bentuk kedua ini para peruddat memainkan rebana sambil melakukan gerakan tarian rancak. Gerakan tarian korcak berlangsung dalam irama yang cenderung lamban. Gerakan peruddat dilakukan baik dalam formasi duduk maupun berdiri. Didalam seni tradisi korcak Bawean seluruh pemain yang terdiri dari penggendang dan peruddat penabuh rebana, semuanya juga berfungsi sebagai vokalis yang menyanyikan syair-syair yang diambil dari kitab Barzanji ,maupun ajaran-ajaran syariat ataupun akhlaq Agama Islam yang biasanya menggunakan Bahasa Bawean.
Seni tradisi korcak menggunakan alat musik berupa rebana dan 2 buah kendang atau yang dalam bahasa Bawean dikenal dengan nama dhung-dhung. Kedua kendang tersebut dalam sebuah irama lagu dimainkan oleh dua orang yang saling menimpali antara satu kendang yang dimainkan secara neter dan kendang lainnya yang dimainkan menimpali (nempale) kendang pertama. Rebana dalam seni tradisi Korcak selain dimainkan sebagai alat musik juga dimainkan sebagai property tarian oleh para peruddat yang berjumlah antara 20 hingga 50 orang. Jenis rebana yang digunakan dalam Korcak memiliki membran yang rentangannya tidak terlalu kencang. Setiap rebana memiliki kencer 2 atau 3 pasang yang pada saat-saat tertentu kencer tersebut dimainkan secara khusus.

Rabu, 18 Juni 2008

Pencak Panganten Bawean

Bawean walaupun luas pulaunya hanya terdiri dari dua kecamatan, dikenal memiliki beragam bela diri tradisional. Diantara beragam jenis bela diri tradisional yang ada, hingga kini masih menggunakan pola latihan yang tradisional dan belum masuk kedalam organisasi Ikatan Pencak Silat Indonesia. Ragam pencak silat tradisional tersebut diantaranya Konto, Pokolan, dan Pencak. Ketiga jenis ini selain bela diri tangan kososng, juga menggunakan permainan senjata seperti belati, pedang, tikpi (trisula), dan tembung (tongkat galah). Dari beragam pencak silat yang ada di Bawean, Pencak Panganten merupakan aliran yang paling menonjolkan keindahan gerak tanpa mengurangi teknik bela diri.
Pencak Panganten dimainkan oleh dua orang yang telah bergelar pandikar (pendekar) pencak yang berlawanan dengan bersenjatakan sebilah pedang. Gerakan-gerakannya cenderung gemulai dan diperlambat walaupun kesemua gerakan merupakan gerakan menyerang lawan dan menghindari serangan dan membalas serangan lawan. Dalam pencak panganten ini saling serang tangkis dan balik menyerang bida berlangsung dalam 3 sampai dengan 10 lapis dalam sekali temmo tabhung. Pendekar yang dinilai tidak bisa menghindari teknik serangan dan kuncian lawannya, dinilai sebagai pihak yang kalah. Kasus seperti yang terkahir ini sangat jarang terjadi. Biasanya dan umumnya Pencak Panganten berakhir dengan keadaan draw berimbang sama jago dan hebatnya.
Pencak Panganten konon hanya dimainkan dihadapan sepasang penganten yang sedang bersanding di pelaminan. Namun saat ini, pertunjukan pencak panganten dihadapan penganten yang sedang bersanding di pelaminan sudah jarang dan nyaris tidak pernah lagi dipertunjukkan. Sebagai musik pengiring dipergunakan dua buah kendang yang dimainkan oleh dua orang dan sebuah gong sebagai element dasar. Sebagai pemanis digunakan kenong. Menurut para pendekar dan tetua Bawean, Pencak Panganten berasal dari Timur Tengah yang diciptakan olah Ali Bin Abutalib dengan ciri pembuka geraknya yang menuliskan lafat Allah dengan ujung pedangnya.
Sebagai upaya merevitalisasi pencak panganten, LEB BEKU Bhei-Bhei mencoba menghadirkan kembali Pencak Panganten dalam prosesi Panganten Adat Bawean yang telah di garap dalam sebuah seni pertunjukan. LEB BEKU Bhei-Bhei juga mengupayakan hidupnya kembali Pencak Panganten dengan mempertunjukkan sebagai pencak penghormatan bagi tamu-tamu penting dan petinggi negara yang datang berkunjung ke Bawean. Kedepan LEB BEKU Bhei-Bhei berharap seni bela diri tradisional pencak panganten dapat berperan sebagai seni pertunjukan penyambutan tamu. Persoalannya adalah, relakah para pendekar pencak Bawean apabila seni pencak panganten dimainkan peragakan oleh anak-anak muda yang makamnya belum sampai pada yahap pendekar ?

Kamis, 22 Mei 2008

Kercengan Tradisional




KERCENGAN TRADISIONAL
Kercengan merupakan hadrah dalam bentuk tradisional Bawean. Alat musik yang dipergunakan terdiri dari sejumlah rebana/terbang khusus yang memiliki bidang badan yang lebar terbuat dari kayu. Membran sebagai penghasil suara memiliki ukuran kekencangan yang berbeda dengan terbang yang dipergunakan hadrah ISHARI.
Lagu-lagu yang dipergunakan pada awalnya diambil dari Kitab Barzanji. Namun pada perkembangan selanjutnya juga ditemukan syair-syair berbahasa Bawean maupun Indonesia yang temanya masih tetap seputar pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad serta ajaran syariat Agama Islam.
Kercengan Bawean juga dilengkapi dengan sejumlah 15 – 30 penari yang disebut dengan ruddet. Para penari ini duduk bersaf dalam 1, 2 atau 3 baris syaf. Gerakan-gerakannya banyak diinspirasi dari gerakan sholat dan huruf hijaiyah lafat-lafat suci Agama Islam.
Konon Kercengan baik yang menabuh maupun yang menari hanya dilakukan oleh pria saja. Namun saat ini banyak ditemui wanita sebagai vokalis dan pe-ruddet kercengan. Bahkan telah ada group kercengan yang keseluruhan personilnya adalah wanita (penabuh, vokal, dan ruddet).

Tari Kercengan Garapan




TARI KERCENGAN GARAPAN

Tari ini mendasarkan ide garapnya pada Kercengan tradisional Bawean pada musik dan gerakannya. Musik dan geraknya merupakan bentuk pamadatan dari berbagai irama kercengan. Perbedaan mendasar dari Kercengan tradisional Bawean adalah para penarinya yang melakukan gerakannya dengan berdiri dan membentuk beragam pola lantai.
Sebagai tari yang mengambil sumber gerak dari seni tradisi kercengan, karakter tari rancak tetap dipertahankan.
Tari ini menggambarkan keteguhan hati masyarakat Bawean dalam iman Agama Islam yang merupakan agama anutan masyarakat seluruh Bawean. Syair dan geraknya menggambar kecintaan pada Sang Khaliq Allah SWT dan kekasih hati utama Rasul Nabi Akhiruzzaman Muhammad SAW sang
pembawa kebenaran.

Pencak Panganten Tradisional

Bawean walaupun luas pulaunya hanya terdiri dari dua kecamatan, dikenal memiliki beragam bela diri tradisional. Diantara beragam jenis bela diri tradisional yang ada, hingga kini masih menggunakan pola latihan yang tradisional dan belum masuk kedalam organisasi Ikatan Pencak Silat Indonesia. Dari beragam pencak silat yang ada di Bawean, Pencak Panganten merupakan aliran yang paling menonjolkan keindahan gerak tanpa mengurangi teknik bela diri.
Pencak Panganten dimainkan oleh dua orang pendekar yang berlawanan dengan bersenjatakan sebilah pedang. Sebagai musik pengiring dipergunakan dua buah kendang yang dimainkan oleh dua orang dan sebuah gong sebagai element dasar. Sebagai pemanis digunakan kenong. Menurut para pendekar dan tetua Bawean, Pencak Panganten berasal dari Timur Tengah yang diciptakan olah Ali Bin Abutalib dengan ciri pembuka geraknya yang menuliskan lafat Allah dengan ujung pedangnya.

Seni Tradisi Jibul



JIBUL
Jibul merupakan kesenian tradisional Bawean yang merupakan seni bercerita yang dilagukan. Jibul dimainkan oleh seorang pemain yang sekaligus memainkan rebana besar sebagai musik latar pertunjukannya. Kisah-kisah yang diceritakan banyak diambil dari kisah kenabian atau yang bertemakan syariat ajaran Agama Islam.
Kesenian Jibul konon hanya dipertunjukkan pada hajatan mantenan atau sunatan di malam hari. Pertunjukannya biasanya di mulai dari setelah sholat Isya’ hingga masuk waktu Sholat Subuh.
Kesenian Jibul di tengah masyarakat Bawean saat ini telah tidak ditemukan lagi. Seniman jibul dapat dikatakan telah tiada. BEKU Bhei-Bhei dengan kepeduliannya mencoba menggali dan merekontruksi kesenian jibul dengan sumber data dari anggota masyarakat Bawean yang konon masih menyaksikan kesenian ini saat dipentaskan dan dimainkan.

Musik Tradisi Dikker




Kesenian Dikker konon berasal dari kosa kata Arab, yaitu ‘dzikir’ yang berarti menyebut dan mengagungkan nama Allah dan Nabi Muhammad. Dalam wujudnya yang tradisional, kesenian Dikker merupakan bentuk kesenian yang melagukan syair-syair Barzanji dengan irama lagu yang khas dan diiringi dengan alat musik rebana berukuran besar. Ke khasan irama syairnya yang mendayu dalam tempo yang lamban, ditingkahi dengan tetabuhan rebana-rebana besar yang bersuara bas, lebih menghadirkan suasana sakral.
Dikker biasanya dimainkan oleh 5 hingga 8 orang yang mana semua personilnya merangkap sebagai penabuh dan vokal maupun lead vokal. Permainan rebananya juga memiliki perbedaan antara setiap penabuh. Salah satu dari penabuh berperan meningkahi tabuhan rebana lainnya. Sehingga terbangun dinamika musik tradisional Dikker Bawean.
Pada tradisi masyarakat Bawean, kesenian Dikker hanya dapat kita jumpai pada perayaan Maulid Nabi Muhammad S.A.W. Pada perayaan tersebut yang di Bawean berlangsung dengan meriah sepanjang hari, musik tradisional Dikker dimainkan sejak pagi hingga menjelang sore hari.

Kolaborasi Mandiling, Dikker, Korcak dan Kercengan

Format karya ini pada awalnya berangkat dari upaya memperkenalkan kesenian tradisi Bawean pada kalangan muda Bawean yang pada saat itu mulai enggan memainkan Kercengan, Mandiling maupun seni tradisi Bawean lainnya. Dengan menumpang popularitas Kyai Kanjengnya Emha Ainun Najib pada saat itu dimulailah mengenalkan ragam kesenian tradisional Bawean pada sejumlah anak muda. Pada perjalanan selanjutnya, dimana rasa percaya diri sebagai pewaris pemiliki kesenian etnik Bawean mulai tumbuh dikalangan personil, lahirlah beberapa nomor lagu yang irama maupun musiknya berakar uratkan kesenian tradisional Bawean. Upaya uji coba ini ternyata banyak mendapat respon positif dari masyarakat Bawean yang menyukai lagu-lagu format garapan ini. Tanggapan lancar.
Kami sendiri yang miskin dalam hal konsep musik kesenian, hingga kini tidak dapat memformulasikan dalam sebuah konsep tentang hasil uji coba ini. Penamaan kolaborasi Mandiling, Dikker, Korcak dan Kercengan dalam sebuah garapan sebagaimana tersebut diatas, sebagai wujud manifestasi ketidak tahuan atas genre jenis apa hasil racikan adonan beragam kesenian tradisi Bawean yang kami hasilkan dalam klasifikasi musik yang ada. ( ? ). Siapapun yang berminat memberi analisa terhadap genre musik ini atau memperdebatkannya kami persilahkan saja. Yang pasti harapan kami agar analisa dan perdebatan yang terjadi jangan mengganggu aktifitas kami dalam ngarabete seni tradisi Bawean.

Pop Daerah Bawean


Lagu pop daerah Bawean yang kini dikembangkan oleh BEKU Bhei-Bhei memiliki jalinan benang merah dengan musik berirama Melayu yang telah berkembang di Bawean sejak adanya kebiasaan merantau masyarakat Bawean ke Singapore pada tahun 1850-an. Musik berirama Melayu di Bawean mengalami puncaknya pada awal kemerdekaan dengan terbentuknya Group Bunga Seroja Bawean yang banyak melahirkan lagu-lagu yang bertemakan kerinduan akan keluarga yang berada diperantauan baik dalam Bahasa Melayu maupun Bahasa Bawean. Namun sayang tidak semua lagu dari era Group Bunga Seroja Bawean ini sampai ke era BEKU saat ini, karena lagu-lagu tersebut tidak terekam dalam bentuk kaset maupun dalam bentuk tulisan dengan partitur nadanya yang mesti ada tidak dapat kami baca.
Beberapa orang seniman Bawean yang kemudian merantau ke Singapore, ternyata di perantauan sukses mengembangkan musik pop Melayu dengan syair berbahasa Bawean. Bahkan mereka mengeluarkan album yang sukses di pasaran. Beberapa nama seperti Kasim Muhammad dengan album lagu Aongghe’e Ka Ratana dan Angkok-Angkok Bilis melegenda di Singapore dan Malaysia disamping beberapa nama lainnya yang juga berasal dari Bawean.
BEKU Bhei-Bhei sebagai Group yang juga mencoba mengangkat kembali kekayaan masa lalunya tanpa mengurangi kreativitas kekinian, selain merecycle lagu-lagu dari era Group Bunga Seroja Bawean seperti Engak-Engak Loppa dan Amempe, juga mencoba melahirkan nomor-nomor lagu baru. Bahkan telah dicoba mengangkat Mandiling kedalam irama pop rock. Upaya BEKU Bhei-Bhei dalam mengangkat kembali musik daerahnya ini telah dibuktikan dengan 3 album idie label.

Tari Mandiling Garapan


Tarian ini merupakan tari pergaulan yang mengambil ide dasar garapan dari Mandiling tradisional Bawean.
Tari ini merupakan tari garapan baru yang mengeksplorasi kekayaan seni tradisi yang berkembang di masyarakat Bawean yang memiliki seni tradisi Mandiling sebagai sumber inspirasi dalam penggarapan tari ini. Tarian ini menggambarkan bertemunya para remaja dalam suasana keceriaan dalam mengobati kerinduan terhadap
keluarga dan kekasih hati yang datang dari perantauan. Tari Mandiling kiranya layak dijadikan sebagai tari penyambutan selamat datang khas Bawean.
Karakter masyarakat Pulau Bawean yang dinamis dengan mengakrabi laut, yang konon dimasa lalu daerah ini merupakan pelabuhan transit kapal dagang dan kini masyarakatnya menjadi perantau ke mancanegara dengan tetap mengakrabi deru ombak, tergambar dalam gerak tari yang energik dinamis.
Masa lalu dan masa kini masyarakat Bawean tersebut, telah menjadikan masyarakat Pulau Bawean bertemu dengan beragam budaya luar pulaunya, yang mendorong terjadinya akulturasi budaya yang berujung pada lahirnya ragam seni budaya dari masa ke masa. Melalui proses tersebut, kini dapat kita temukan beragam unsur budaya luar Bawean di tengah tradisi Masyarakat Bawean yang wujudnya telah mengalami perubahan dan penyesuaian dengan kondisi dan karakter dasar budaya masyarakat Bawean.
Pola gerak tari ini mengambil sumber gerak tari tradisi Mandiling dan pencak silat Bawean, yang digarap padukan dengan tetap mengacu kepada konsep estetika seni tari yang ada. Kekhasan gerak ala Baweanan sebagai sumber inspirasi dengan gelegar emosi masyarakat pantai yang mobilitasnya tinggi, dijadikan roh gerak yang mengejewantah dalam gerak yang rancak energik.
Musik iringan tari Mandilingan ini juga sepenuhnya mengambil sumber inspirasi dan roh ragam musik tetabuhan yang berkembang sebagai tradisi di Masyarakat Pulau Bawean. Musik tradisi yang di masyarakat Bawean dikenal dengan nama Mandiling, musik iringan pencak, Kercengan dan lagu khas daerah Bawean baik yang menggunakan syair barzanji maupun syair pantun yang berisi nasehat hingga yang genit menggelitik, dikemas padukan mengikuti kebutuhan gerak dan emosi serta roh yang dibangun dalam garapan tari ini.
Sebuah pencapaian gemilang dari nomor tari ini adalah, tarian ini telah diakui di tingkat Propinsi Jawa Timur maupun nasional sebagai tari khas Bawean. Dalam pagelaran promo wisata Jawa Timur ke Australia tahun 2006 dan 2007, Tari Mandiling telah menjadi salah satu nomor tari yang dipentaskan.

Mandiling Tradisional

Mandiling merupakan salah satu kesenian tradisional Bawean yang hingga kini masih hidup dan dapat kita saksikan di Pulau Bawean. Kesenian Mandiling pada dasarnya merupakan seni berbalas pantun yang dinyanyikan dengan iringan jidor, gong, akordion, guitar, bas dan biola. Namun saat ini Mandiling yang hanya kita temui di Desa Daun hanya diiringi dengan jidor dan gong saja walau konon group Mandiling dari desa ini juga menggunakan alat-alat melodis diatas sebagai musik pengiringnya.
Mandiling dimainkan oleh 1 hingga 4 pasang orang yang secara bergantian menyanyikan pantun sambil menari. Pantun yang dinyanyikan menggunakan Bahasa Bawean sebagai bahasa pengantar yang bersifat berkait (berbalas) antar pantun yang dinyanyikan bergantian. Tema pantun beragam dari persoalan ahlak moral hingga percintaan yang fulgar menggelitik.
Dalam Mandiling tradisional yang berpasangan, pemeran wanita dimainkan oleh orang laki-laki yang berdandan, berpakaian wanita. Tingkah tarian dan pantun si wanita ini yang selalu melahirkan kelucuan dalam pertunjukan. Konon diperankannya tokoh wanita dalam Mandiling oleh orang laki-laki dilandasi pemahaman ajaran Agama Islam masyarakat Bawean yang melarang wanitanya menari dan menyanyi.
Mandiling yang dalam tradisi Bawean ditampilkan dalam hajatan dan dipertontonkan dimuka umum, merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional Bawean yang banyak digemari oleh masyarakat Bawean. Alunan syair pantun yang genit menggelitik selalu mengundang senyum dan tawa dari penonton yang hadir menyaksikan. Iringan musik jidor dan gong yang rancak, tak ayal sering mengundang penonton untuk turut larut menari dan berpantun di pasamoan.