Minggu, 31 Agustus 2008

BEKU DAN BUMN PEDULI BAWEAN

Bersama BUMN peduli, LEB Beku Bhei-Bhei mencoba tetap eksis dalam menyalurkan bantuan kepada masyarakat Bawean. Akan tetapi kali ini dikhususkan bantuan untuk lembaga pendidikan yang ada di pulau Bawean. Karena kita yakin bahwa dengan majunya mutu pendidikan di pulau Bawean akan membawa Bawean pada kemajuan nantinya.
Bantuan yang di salurkan kali ini adalah 12 unit komputer, yang telah di salurkan ke MINU Gandaria, MINU Tanjung Anyar, MINU Padangjambu, MINU Dedawang, MINU Kelompang Gubuk, MINU Paromaan, MDU Grejek, MDU Pajinggahan, MIDU Rojhing, MIDU Umma, SMP Islamiyah, SMP LP Maarif.
Selain itu ada pula ribuan buku Tulis dan Seragam olah raga yang telah di bagikan kepada sekolah-sekolah yang telah ditentukan sebelumnya.

Rabu, 25 Juni 2008

Pameran Budaya Panganten Adat Bawean

Moment pernikahan adalah moment sakral bagi masyarakat luas. Oleh karena itu di tiap daerah mempunyai prosesi pernikahan yang berbeda sesuai dengan budaya masing-masing. Begitu pula di Bawean. Prosesi pernikahan adat Bawean digelar 7 hari 7 malam lengkap dengan segala properti dan prosesi adat yang merupakan bagian dari upacara panganten yang mempunyai makna tersendiri.

Dalam kunjungan rombongan Dinas Pariwisata Propinsi Jawa Timur dan diliput beberapa stasiun televisi swasta beserta wartawan media cetak, LEB Beku Bhei-bhei mencoba mengemas upacara panganten tersebut menjadi satu malam. Dengan tidak mengurangi esensi dari prosesi panganten adat tersebut.

Pameran budaya panganten adat Bawean yang digelar tanggal 10 Mei 2007 ini dimulai dari penampilan kesenian dhungka sebagai tanda ada perhelatan pernikahan, proses “Panganten A’ Totongghu” oleh pengantin wanita lalu proses “Panganten Matammat-tammat / Nammattaken” yaitu khataman Al-Qur’an dengan lagu yang khas dan prosesi lain yang menjadi rangkaian upacara pernikahan adat juga ditampilkan dalam pameran budaya kali ini. Tari mandiling tradisional, Kercengan Tradisional, Korcak, Pencak Panganten, Tari Mandiling Garapan dan Tari Kercengan garapan melengkapi kemeriahan dan kesuksesan Pameran Budaya kali ini.

GELAR KESENIAN BAWEAN

Etalase Kesenian Etnik Jawa Timur

Tidak hanya di Bawean dan Gresik, LEB Beku Bhei-Bhei juga menampilkan kesenian dan budaya Bawean di Surabaya. LEB Beku Bhei-Bhei mencoba membawa kesenian Bawean ditengah-tengah masyarakat Surabaya dan perantau Bawean yang ada di Surabaya tentunya, menampilkan kesenian bawean yakni Mandiling Tradisional, Tari Mandiling Garapan, Kercengan Tradisional, Tari Kercengan Garapan, Pencak Panganten, Jibul, Dikker, dan Lagu Pop Daerah.

Gelar Kesenian Bawean yang di tampilkan di Pendopo Taman Budaya Jawa Timur pada tanggal 21 April 2007 ini juga memperkenalkan jajanan khas Bawean, seperti posot-posot, bubur sum-sum, koncok-koncok, abuk-abuk, jengkong, dhudhul tikar, dan karupuk sangngar yang pada malam itu bebas dihidangkan untuk seluruh penikmat acara.

Untuk lebih mengenalkan kesenian dan budaya Bawean dalam event ini kami juga memperkenalkan salah satu souvenir khas Bawean berupa anyaman pandan dalam bentuk tikar dan tas dengan berbagai corak dan desain. Malam kesenian ini dihadiri oleh Wakil Bupati Gresik Bp. Sastrosuwito M.Hum, Kepala Taman Budaya Jawa Timur Drs. Pribadi Agus Santoso M.M dan Budayawan Bawean. Penampilan yang di siarkan beberapa kali oleh pihak TVRI dalam program acara Kesenian Jawa Timur ini disajikan oleh 38 orang seniman yang tak lain adalah anggota LEB Beku Bhei-Bhei.

Selasa, 24 Juni 2008

Mbhe Rambheje

Kubur Embhe Rambheje secara administratif berada di wilayah Dusun Suwaritimur, Desa Suwari, Kecamatan Sangkapura. Keletakan kubur tokoh ini berada di halaman belakang Masjid Suwaritimur yang dikelilingi perkampungan. Untuk menuju kelokasi kubur ini dari jalan lingkar Bawean yang melalui Desa Suwari, masuk melalui jalan desa yang telah diperkeras dengan beton cor sejauh 30 meter melalui perkampungan. Diujung jalan masuk kita akan sampai ke Masjid Suwaritimur.
Kubur tokoh Embhe Rambheje dikelilingi kubur masyarakat Dusun Suwari Timur. Namun pekuburan ini saat ini telah tidak dipergunakan lagi. Kubur tokoh Embhe Rambheje akan terlihat mencolok ditengah kubur-kubur lainnya. Ciri sebagai pembeda dengan kubur lainnya adalah terdapatnya pagar batu yang melingkari kubur ini. Pagar batu tersebut menggunakan bahan batu kali yang tidak dibentuk. Batu-batu tersebut ditata meninggi sedemikian rupa tanpa diberi perekat. Pagar batu yang memiliki denah persegi empat tersebut, memiliki sebuah pintu masuk yang berada di sisi Selatan. Pagar batu ini memiliki ukuran panjang 410 cm, lebar 498 cm, tinggi 70 cm dengan ketebalan dinding batu 80 cm.
Pada bagian dalam sisi pagar batu, terdapat tiga pasang nisan yang tanpa diberi jirat kubur. Kubur Embhe Rambheje berada di sisi tengah yang diapit dua kubur lainnya. Kedua kubur yang mengapit kubur Embhe Rambheje, oleh masyarakat setempat sudah tidak dikenali lagi nama tokoh yang dikuburkan dalam satu kawasan pagar itu. Ketiga pasang nisan yang ada menggunakan bahan batu andesit alami yang tidak dibentuk. Nisan Embhe Rambheje tersebut memiliki ukuran lebar 32 cm, tebal 9 cm, tinggi 34 cm dengan jarak antar nisan 125 cm.
Berdasarkan cerita tutur yang berkembang di masyarakat Suwari, tokoh Embhe Rambheje adalah merupakan tokoh pembawa Agama Islam di desa tersebut. Melalui peran tokoh ini masyarakat Suwari akhirnya menjadi pemeluk Agama Islam. Sebagai tokoh yang mengajarkan syariat Islam, Embhe Rambheje juga mendirikan masjid Suwaritimur yang kini berada dalam satu kompleks dengan kuburya.

Sabtu, 21 Juni 2008

Korcak

Seni tradisi Bawean yang kini kondisinya juga berada diambang kepunahan salah satunya adalah Korcak. Saat ini di Kecamatan Sangkapura Pulau Bawean, group atau perkumpulan korcak hanya tinggal 2. Yakni group yang ada di Dusun Koddhuk-Koddhuk dan Sokela Desa Patar Selamat yang menghimpun diri dalam satu group, dan group lainnya berada di Dusun Menara Desa Gunungteguh. Walaupun jumlah group perkumpulan Korcak tinggal 2, intensitas penampilan kesenian ini masih cukup tinggi. Biasanya mereka banyak mendapat undangan tampil dalam hajatan pernikahan atau sunatan.
Dalam penampilannya Korcak dapat di bedakan kedalam dua bentuk pertunjukan. Bentuk pertama korcak dimainkan sebagai musik arak-arakan yang di Bawean umumnya dalam arak-arakan penganten Bawean. Dalam format bentuk ini para penabuh kendang dan peruddat dengan rebananya dimainkan dalam formasi barisan arak-arakan yang memainkan musik korcak sambil berjalan. Bentuk format kedua, Korcak dimainkan diatas sebuah pentas atau pasamoan. Dalam format bentuk ini pemain
kendang duduk berhadapan. Sedangkan para peruddat mengawali permainan geraknya dengan duduk bersyaf dalam 2, 3, atau 4 syaf barisan tergantung pada jumlah peruddatnya. Dalam Format bentuk kedua ini para peruddat memainkan rebana sambil melakukan gerakan tarian rancak. Gerakan tarian korcak berlangsung dalam irama yang cenderung lamban. Gerakan peruddat dilakukan baik dalam formasi duduk maupun berdiri. Didalam seni tradisi korcak Bawean seluruh pemain yang terdiri dari penggendang dan peruddat penabuh rebana, semuanya juga berfungsi sebagai vokalis yang menyanyikan syair-syair yang diambil dari kitab Barzanji ,maupun ajaran-ajaran syariat ataupun akhlaq Agama Islam yang biasanya menggunakan Bahasa Bawean.
Seni tradisi korcak menggunakan alat musik berupa rebana dan 2 buah kendang atau yang dalam bahasa Bawean dikenal dengan nama dhung-dhung. Kedua kendang tersebut dalam sebuah irama lagu dimainkan oleh dua orang yang saling menimpali antara satu kendang yang dimainkan secara neter dan kendang lainnya yang dimainkan menimpali (nempale) kendang pertama. Rebana dalam seni tradisi Korcak selain dimainkan sebagai alat musik juga dimainkan sebagai property tarian oleh para peruddat yang berjumlah antara 20 hingga 50 orang. Jenis rebana yang digunakan dalam Korcak memiliki membran yang rentangannya tidak terlalu kencang. Setiap rebana memiliki kencer 2 atau 3 pasang yang pada saat-saat tertentu kencer tersebut dimainkan secara khusus.